Oleh: denysutani | September 17, 2008

Tuhan dan pengembara

Ada seorang pengembara yang sangat ingin melihat pemandangan yang ada
di balik suatu gunung yang amat tinggi. Maka disiapkanlah segala
peralatannya dan berangkatlah ia. Karena begitu beratnya medan yang
harus
dia
tempuh, segala perbekalan dan perlengkapannya pun habis. Akan tetapi,
karena begitu besar keinginannya untuk melihat pemandangan yang ada di
balik gunung itu, ia terus melanjutkan perjalannya. Sampai suatu
ketika,
ia menjumpai semak belukar yang sangat lebat dan penuh duri. Tidak ada
jalan lain selain ia harus melewati semak belukar itu. Pikir pengembara
itu Wah, jika aku harus melewati semak ini, maka kulitku pasti akan
robek dan penuh luka. Tapi aku harus melanjutkan perjalanan ini. Maka
pengembara itupun mengambil ancang-ancang dan ia menerobos semak itu.
Ajaib, pengembara itu tidak mengalami luka goresan sedikitpun. Dengan
penuh sukacita, ia kemudian melanjutkan perjalanan dan berkata dalam
hati
Betapa hebatnya aku. Semak belukarpun tak mampu menghalangi aku .
Selama hampir 1 jam lamanya ia berjalan, tampaklah di hadapannya
kerikil-kerikil tajam berserakan. Dan tak ada jalan lain selain dia
harus
melewati jalan itu. Pikir pengembara itu untuk kedua kalinya Jika aku
melewati kerikil ini, kakiku pasti akan berdarah dan terluka. Tapi aku
tetap harus melewatinya. Maka dengan segenap tekadnya, pengembara itu
berjalan. Ajaib, ia tak mengalami luka tusukkan kerikil itu sedikitpun
dan
tampak kakinya dalam keadaan baik-baik saja. Sekali lagi ia berkata
dalam hati : Betapa hebatnya aku. Kerikil tajampun tak mampu
menghalangi
jalanku. Pengembara itupun kembali melanjutkan perjalanannya. Saat
hampir sampai di puncak gunung itu, ia kembali menjumpai rintangan.
Batu-batu besar dan licin menghalangi jalannya, dan tak ada jalan lain
selain dia harus melewatinya. Pikir pengembara itu untuk yang ketiga
kalinya
: Jika aku harus mendaki batu-batu ini, aku pasti akan tergelincir
dan tangan serta kakiku akan patah. Tapi aku ingin sampai di puncak
itu.
Aku harus melewatinya. Maka pengembara itupun mulai mendaki batu itu
dan ia…tergelincir. Aneh, setelah bangkit, pengembara itu tidak
merasakan sakit di tubuhnya dan tak ada satupun tulangnya yang patah.
Betapa hebatnya aku. Batu-batu terjal inipun tidak dapat menghalangi
jalanku. Maka, iapun melanjutkan perjalanan dan sampailah ia di
puncak
gunung itu. Betapa sukacitanya ia meihat pemandangan yang sungguh indah
dan

tak pernah ia melihat yang seindah ini. Akan tetapi, saat pengembara
itu membalikkan badannya, tampaklah di hadapannya sosok manusia yang
penuh luka sedang duduk memandanginya. Tubuhnya penuh luka goresan dan
kakinya penuh luka tusukan dan darah. Ia tak dapat menggerakkan seluruh
tubuhnya karena patah dan remuk tulangnya. Berkatalah pengembara itu
dengan penuh iba pada sosok penuh luka itu : Mengapa tubuhmu penuh
luka
seperti itu? Apakah karena segala rintangn yang ada tadi? Tidak bisakah
engkau sehebat aku karena aku bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun?
Siapakah engkau sebenarnya ? Jawab sosok penuh luka itu dengan
tatapan
penuh kasih : Aku adalah Tuhanmu. Betapa hatiKu tak mampu menolak
untuk menyertaimu dalam perjalanan ini, mengingat betapa inginnya
engkau
melihat keindahan ini. Ketahuilah, saat engkau harus melewati semak
belukar itu, Aku memelukmu erat supaya tak satupun duri merobek
kulitmu.
Saat kau harus melewati kerikil tajam, maka Aku menggendongmu supaya
kakimu tidak tertusuk. Ketika kau memanjat batu licin dan terjatuh, Aku
menopangmu dari bawah agar tak satupun tulangmu patah. Ingatkah engkau
kembali padaKU ? Pengembara itupun terduduk dan menangis tersedu-sedu.
Untuk kedua kalinya, Tuhan harus menumpahkan darahNya untuk suatu
kebahagiaan.

Kadang, kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai & melindungi kita. Kita
lebih mudah ingat betapa hebatnya diri kita yang mampu melampaui segala
rintangan tanpa menyadari bahwa Tuhan bekerja di sana. Dan sekali lagi,
Tuhan harus berkorban untuk keselamatan kita. Maka, seperti Tuhan yang
tak mampu menolak untuk menyertai anakNya, dapatkah kita juga tak mampu
menolak segala kasihNya dalam perjalanan hidup kita dan membiarkan
tanganNya bekerja dalam hidup kita?

Oleh ,
Fajar Wahyu Pribadi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: